Kamis, 10 Oktober 2013

DEFINISI MANAGEMENT DAN KEPEMIMPINAN



MANAGEMENT
Definisi manajemen dibagi dalam 3 definisi, yaitu :
1.      Manajemen sebagai suatu proses
2.      Manajemen sebagai suatu kolektivitas manusia
3.      Manajemen sebagai ilmu dan manajemen sebagai seni

1.      Manajemen sebagai suatu proses
Dilihat dari cara orang mencapai suatu tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan terlebih dahulu. Pengertian manajemen sebagai suatu proses dapat dilihat menurut:
·         George R.Terry: Manajemen adalah cara pencapaian tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu melalui kegiatan orang lain.
·         Haiman: Manajemen adalah fungsi untuk mencapai suatu tujuan melalui orang lain, mengawasi usaha-usaha yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan.
·         Stoner: Manajemen sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan sumber-sumber organisasi lainnya untuk mancapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
·         Mary Parker Follet: Mendefinisikan manajemen sebagai suatu seni untuk melakukan sesuatu melalui orang lain.

2.      Manajemen sebagai suatu kolektivitas
Menurut Henry Fayol manajemen sebagai suatu kolektivitas adalah suatu kumpulan orang-orang yang bekerja sama untuk untuk mencapai tujuan bersama. Kumpulan orang-orang disini menunjukan adanya tingkatan kepemimpinan (pimpinan atas, menengah dan bawah).

3.      Manajemen sebagai Ilmu dan Seni
Menjelaskan tentang gejala-gejala yang diteliti dengan menggunakan metode ilmiah, yaitu menggunakan bantuan disiplin ilmu lainnya seperti ilmu sosial, filsafat, matematik dan statistic dan lain sebagainya.

Definisi Psikologi Manajemen :
Efek dari pikiran yang mengarahkan pekerjaan ke pekerjaan yang telah diarahkan (telah di atur). Atau efek pikiran untuk mengelola tujuan.

KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan menurut para ahli:
·         Mumfrrord (1906-1907) : “kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau bebrapa individu dalam kelompok, dalam mengontrol gejala-gejala sosial “.
·         Knickerbocker (1948) : “kepemimpinan adalah fungsi dari kebutuhan yang muncul pada situasi tertentu dan terdiri atas hubungan antara individu dengan kelompoknya.
·         Tead (1929), kepemimpinan sebagai perpaduan dari berbagai sifat yang memungkinkan individu mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan beberapa tugas tertentu.
·         Bogarus (1928), kepemimpinan sebagai bentukan dan keadaan pola tingkah laku yang dapat membuat orang lain berada di bawah pengaruhnya.
·         Stuart : “kepemimpinan sebagai kemampuan yang memberi kesan tentang keinginan pemimpin, sehingga dapat menimbulkan kepatuhan, rasa hormat, loyalitas dan kerjasama”.
·         Tannenbaum, Weschler dan Massank (1961) : “kepemimpinan sebagai pengaruh interpersonal, dipraktekan dalam suatu situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan.
·         Bellow (1959) : “kepemimpinan sebagai proses menciptakan situasi sehingga para anggota kelompok, termasuk pemimpin dapat mencapai tujuan bersama dengan hasil maksimal.


Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa  Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.



DAFTAR PUSTAKA
L.M. GILBRETH, PH.D., (1914). The Psychology of Management. New York: The Mamillan Company.
Asep Suryana, M.Pd., (2010). KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194505031971091-MUHAMMAD_KOSIM_SIRODJUDIN/DEFINISI_DAN_TEORI_KEPEMIMPINANx.pdf

Minggu, 09 Juni 2013

STRESS



PENGERTIAN STRESS
Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.

Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Menurut Mason (1971 ) membantah konsep yang mengatakan bahwa stress hanyalah merupakan badaniah saja. Ditunjukkkannya bahwa daya adaptasi seseoarang itu tergantung pada faktor-faktor kejiwaan atau psikologiknya yang menyertai stresor. Stres bukanlah konsep faal saja, lebih banyak dilihat sebagai konsep perilaku, setiap reaksi organisme terhadap stresor memungkinkan sekali terlebih dahulu dimulai oleh kelainan perilaku dan kemudian mungkin baru terjadi akibat faal, kemudian Mason (1976 ) menunjukkan bahwa terdapat pola hormonal yang berbeda terhadap stresor fisik yang berbeda
Pada penelitain Wolf dan Goodel ( 1968 ) bahwa individu-individu yang mengalami kesukaran dengan suatu sistem organ, cenderung akan bereaksi etrhadap stresor dengan gejala dan keluhan dalam sistem organ yang sama.Kondisi sosial, perasaan dan kemampuan untuk menanggulangi masalah, ternyata mempengaruhi juga aspek yang berbeda-beda dari reaksi terhadap stres.
Menurut Selye (Bell, 1996) stress diawali dengan reaksi waspada (alarm reaction) terhadap adanya ancaman, yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti: meningkatnya denyut jantung, yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu merasa tidak mampu untuk terus bertahan.
Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stress juga dapat diartikan sebagai:
·         Stimulus, yaitu stress merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stress atau disebut juga dengan stressor.
·         Respon, yaitu stress merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stress. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung.

TAHAP-TAHAP STRESS
Menurut Robert J.Van Amberg,1979 (Hidayat, 2008), stres dapat di bagi kedalam enam tahap sebagai berikut:
1.      Tahap ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya di tanadai dengan munculnya semangat yang berlebihan, penglihatan lebih “tajam”dari biasanya, dan biasanya (namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan dan timbulnya rasa gugup yang berlebihan).
2.      Pada tahap ini, dampak stres yang semula menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan karena habisnya cadangan energi. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan antara lain merasa letih sewaktu bangun pagi dalam kondisi normal, badan (seharusnya terasa segar), mudah lelah sesudah makan siang, cepat lelah menjelang sore, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar-debar, otot punggung dan tengkuk terasa tegang dan tidak bisa santai.
3.      Jika tahap stres sebelumnya tidak ditanggapi dengan memadai, maka keluhan akan semakin nyata, seperti gangguan lambung dan usus (gastritis atau maag, diare), ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur (sulit untuk mulai tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur, atau bangun terlalu pagi dan tidak dapat tidur kembali), tubuh terasa lemah seperti tidak bertenaga.
4.      Orang yang mengalami tahap-tahap stres di atas ketiga memeriksakan diri ke dokter sering kali dinyatakan tidak sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Namun pada kondisi berkelanjutan, akan muncul gejala seperti ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas rutin karena perasaan bosan, kehilangan semangat, terlalu lelah karena gangguan pola tidur,kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun, serta muncul rasa takut dan cemas yang tidak jelas penyebabnya.
5.      Tahap ini ditandai dengan kelelahan fisik yang sangat, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan ringan dan sederhana, gangguan pada sistem pencernaan semakin berat, serta semakin meningkatnya rasa takut dan cemas.
6.      Tahap ini merupakan tahap puncak, biasanya ditandai dengan timbulnya rasa panik dan takut mati yang menyebabkan jantung berdetak semakin cepat, kesulitan untuk bernapas, tubuh gemetar dan berkeringat, dan adanya kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

Selasa, 02 April 2013

KESEHATAN MENTAL



KESEHATAN MENTAL

KONSEP SEHAT DIMENSI

1.   Emosi
            Chaplin (1972) emosi sebagai reaksi kompleks yang mengandung tingkatan aktiitas yang tinggi, dan diikuti perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.
            Kleinginna (Kleinginna dalam Morgan dkk, 1986) mensyaratkan satu definisi yang komprehensif tentang emosi seharusnya:
a.       Mengatakan sesuatu tentang apa yang dirasakan ketika seseorang sedang emosional
b.      Menyebutkan dasar psikologis dan fisiologis dari perasaan emosional
c.       Memasukkan efek-efek dari emosi terhaadap persepsi, pemikiran dan perilaku
d.      Menunjukkan sifat dari emosi tertentu yang mendorong dan memotivasi, seperti rasa takut dan marah
e.       Mengacu ke cara bagaimana emosi diungkapkan dalam bahasa, ekspresi, wajah, dan gesture (bahasa tubuh)

Walaupun emosi merupakan perasaan yang mengalami intensitas, sebenarnya orang masih bisa mengontrol dirinya agar tidak larut dalam emosi. Ekman & Freisen (dalam Carlosn, 1987) terdapat tiga rules yang mengatur emosi dan ekspresi kejamanian.
a.       Masking. Emosi yang dialami seseorang tidak tercetus  keluar melalui ekspresi kejasmanian fisiknya. Contoh: orang yang mengalami kematian anggota keluarganya, dapat menutup atau meredam kesedihannya.
b.      Modulation. Emosi tidak dapat disembunyikan atau diredam. Gejala fisik mengekspresikannya, tetapi emosi tersebut dikontrol sehingga tidak meledak-ledak. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Allport (1961) dalam kriteria kepribadian yang sehat yaitu tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Contoh: orang menangis ketika ditinggal pacar, tapi tidak histeris.
c.       Simulation. Orang tidak mengalami emosi tetapi seolah-olah ia mengalami emosi dengan menampakkan gejala fisiknya.
Menurut Ekman & Freisen mengatakan budaya berperan dalam hal ini. Jika masking dan modulation dipengaruhi ajaran budaya bahwa tidak etis menangis dengan meronta-ronta dihadapan umum walaupun kehilangan seorang anggota keluarganya, sementara simulation diajarkan agar orang harus turut sedih dengan orang yang kehilangan.

2.   Intelektual
      Biasanya orang-orang yang mentalnya sehat adalah orang-orang yang memiliki intelektual cukup tinggi memiliki ciri-ciri berikut ini:
a.       Mudah menangkap pelajaran
b.      Memiliki ingatan yang baik
c.       Perbendaharaan kata luas
d.      Penalaran tajam (berfikir logis, memahami hubungan sebab-akibat)
e.       Daya konsenrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan)
f.       Menguasai banyak bahan tentang berbagai topic
g.      Senang dan sering membaca
h.      Ungkapan diri lancar dan jelas
i.        Pengamatan yang cermat
j.        Senang mempelajari kamus, peta, ensiklopedia
k.      Cepat memecahkan soal
l.        Cepat tanggap menemukan kekeliruan dan kesalahan
m.    Cepat dalam menemukan asas dalam suatu uraian
n.      Mampu membaca pada usia lebih muda
o.      Daya abstraksi tinggi
p.      Selalu sibuk menangani berbagai hal

3.   Sosial
Manusia adalah mahluk social, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya, manusia yang sehat mentalnya pasti dia akan berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya. Karena individu tersebut memandang kehidupan secara realita. Jika individu tersebut hanya berkutat pada dirinya sendiri dan tidak mau atau takut berinteraksi dengan lingkungannya biasanya dia hanya hidup dalam dunia fantasinya dan tidak menerima realita kehidupannya itu berarti kepribadian individu tersebut terganggu.

4.   Fisik
Individu yang memiliki fisik yang sehat mempengaruhi kesehatan mentalnya. Karena individu yang memiliki fisik yang sehat, melakukan segala sesuatu dengan sadar sehingga individu tersebut dapat memahami situasi lingkungannya.
Jika individu tidak memiliki fisik yang sehat kemungkinan dia akan taku menghadapi keadaan lingkungannya. Contohnya individu yang memiliki berbagai macam alergi, alasan pertamanya adalah untuk menghindari sesuatu  yang membuatnya alergi namun lama kelamaan hal ini akan membuatnya takut terhadap sesuatu yang membuatnya alergi, dan kemungkinan dia menjadi phobia terhadap segala esuatu yang membuatnya alergi.

5.   Spiritual
            Ada dua istilah penting yang harus dibedakan agama dan spiritualitas. Kata agama mengimplikasikan perhatian pada nilai suci dan utama dari hidup. Istilah spiritualitas di sisi lain mengacu pada pengalaman lanngsung atas hal-hal suci.
            Spiritual adalah bagaimana kita mengeksplorasi ke dalam diri kita untuk jauh lebih mengenal tentang diri sejati kita dan mereka yang sudah dapat mengenal diri sendiri akan dapat mengenali Tuhannya.
            Spiritual juga membuat seseorang dapat lebih memahami arti Tuhan utuk dirinya, mengerti hubungannya dengan Tuhannya, dan spiritual juga dapat membantu individu menenangkan dirinya dari berbagai macam masalah kehidupan.



TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

1.      Sigmund Freud
Fase-fase perkembangan individu didorong oleh energy psikis yang disebut libido. Libido ini merupakan energy psikis yang bersifat seksual(dorongan kehidupan) dan sudah ada sejak bayi. Setiap tahap perkembangan ditandai dengan berfungsinya dorongan-dorongan tersebut pada daerah tubuh tertentu. Freud membagi perkembangan psikoseksual menjadi lima fase:
a.       Oral (12-18 bulan)
Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan pada mulutnya. Seperti makan, minum, atau menyusu pada ibunya, apabila anak tidak mendapatkannya maka anak akan memasukkan jari-jari tangannya ke mulut.
b.      Anal (12/18 bulan-3 tahun)
Pusat kenikmatan terdapat pada daerah anus. Ini saat yang tepat untuk mengajari anak toilet training. Pada fase ini anak sudah menjadi individu yang mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.
c.       Phallic (3-6 tahun)
Anak memindahkan pusat kepuasannya pada alat kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomin antara laki-laki dan perempuan. Pada anak laki—laki keterdekatan pada ibunya menimbulkan gairah seksual dan rasa cinta yang disebut Oedipus Complex, (pada anak perempuan terhadap ayahnya disebut Electra Complex).namun perasaan ini terhalang oleh tokoh ayah, kemudian diikuti oleh kecemasan kastrasi (takut dipotong alat kelaminnya atau takut disunat) sehingga menimbulkan perilaku menurut dan meniru saingannya. Konflik ini terpecahkan bila anak sudah dapat menerima, menyukai, dan mengagumi saingannya sehingga menjadi model dari perilakunya.
d.      Latency (6- pubertas)
Ini adalah masa tenang, walau anak mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan kognitif.kecemasan dan ketakutan pada fase-fase sebelumnya ditekan (repressed). Anak laki-laki bermain dengan teman bergender sama, begitu juga dengan anak perempuan. Oleh karena itu fase ini juga disebut fase hoseksual alamiah. Anak akan mencari figure ideal diantara orang yang berjenis kelamin sama dengannya.
e.       Genital (12 tahun ke atas)
Alat-alat reproduksi sudah mulai matang, pusat kepuasannya berada pada daerah kelami. Libido diarahkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis. Pengalaman-pengalaman di masa lalunya sangat berpengaruh pada masa remaja menuju masa dewasa, dunia karir, dan berumah tangga.

2.   Erik Erikson
            Dalam delapan tahap perkembangan psikososial Erikson, kehidupan social budaya dan lingkungan indiidu mempengaruhi perkembangan ego dan diri.
            Erikson masih memakai konsep-konsep naluri Freud yang dibentangkannya pada dua titik ekstrim (positif-negatif) sebagai suatu konflik dan konflik ini menimbulkan krisis. Terselesaikannya krisis itu akan mempengaruhi perkembangan individu. Berikut delapan tahap perkembangan psikososial:
a.       Basic Trust vs Basic mistrust (12-18 bulan)
Bila rasa aman terpenuhi, bayi akan mengambangkan rasa percaya terhadap lingkungan, dan apabila bayi selalu terganggu, tidak pernah merasakan kasih saying, dan rasa aman maka bayi akan mengen=mbangkan rasa tidak percaya terhadap lingkungan.
b.      Autonomy vs Shame & Doubt (12/18 bulan-3 tahun)
Pengakuan, pujian, perhatian, serta dorongan akan menimbulkan rasa percaya diri, memperkuat egonya, bila sebaliknya maka akan mengembangkan peasaan ragu-ragu.
c.       Initiative vs Guilt (3-6 tahun)
Bila pada tahap sebelumnya anak dapat mengmbangkan rasa percaya diri maka di tahap ini anak mulai berani mengambil sikap inisiatif, yaitu perasaan untuk dapat melakukan sesuatu sesuai kehendaknya dan apabila di tahap sebelumnya anak mengembangkan perasaan ragu-ragu maka ditahap ini anak akan selalu merasal bersalah dan tidak berani mengambil keputusan.
d.      Industry vs Inferiority (6 tahun-pubertas)
Memasuki usia sekolah, apabila anak mampu menghadapi tuntutan-tuntutan lingkungan dan dihargai anak akan lebih produktif, namun bila yang terjadi sebaliknya anak akan merasa rendah diri(minder).
e.       Identity vs Identity Confusion (pubertas-dewasa awal)
Tahap ini anak mulai memutuskan bagaimana masa depannya, apabila berhasil pada tahap sebelumnya maka anak dapat menemukan dirinya namun bila sebaliknya anak akan bingung mengenai siapa dirinya.
f.       Intimacy vs Isolation (dewasa awal)
Individu mulai mencari pasangan hidup, seseorang yang berhasil mendapatkan kasih saying akan merasakan kemesraan dan keintiman, dan apabila seseorang tersebut gagal maka akan merasa terasingkan.
g.      Generativity vs Stagnation (dewasa madya)
Pengalaman dimasa lalu mampu membuat individu berbuat banyak untuk generasi setelahnya,nammun apabila individu memperolah atau hanya berada dalam pengalaman negative maka mungkin dia terkurung dalam persoalannya sendiri
h.      Integrity vs Despair (usia lanjut)
Individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi dan tindakan masa lalu akan menimbulkan perasaan puas dan apabila ia merasa gagal aka akan timbul kekecewaan yang amat besar.

3.   Gordon Allport
            Menurut Allport pribadi yang sehat adalah kepribadian yang matang. Berikut beberapa asumsi tentang konsep kepribadian yang matang. Pertama, manusia yang matang secara psikologis memiliki perilaku yang proaktif, yaitu mereka mampu bertindak secara sadar dalam lingkungannya, serta membuat lingkungannya memberikan respon terhadapnya.
            Selain itu, kepribadian yang matang lebih dapat termotivasi oleh proses sadar sehingga mereka menjadi lebih fleksibel dan mandiri, sedangkan kepribadian yang terganggu atau tidak sehat, akan tetap terdominasi oleh motif-motif tidak sadar yang berasal dari pengalaman masa kecilnya.
Pribadi yang sehat biasanya memiliki masa kecil yang tidak traumatis walaupun pada tahun-tahun berikutnya mereka dapat menghadapi konflik dan penderitaan. Usia tidak menentukan pribadi yang matang, walaupun manusia yang sehat kelihatan menjadi dewasa saat usianya bertambah.
Allport (1961) mengidentifikasikan enam criteria kepribadian yang matang.
Kriteria pertama adalah perluasan perasaan diri. Mereka tidak terpuat pada diri sendiri (self-centered) serta mampu terlibat dalam masalah dan aktivitas yang tidak terpusat pada diri mereka. Mereka mengembangkan minat yang tidak egosentris dalam pekerjaan, permainan, dan rekreasi. Minat atas kehidupan social, keluarga, dan spiritual sangat penting bagi mereka.
Kedua, memiliki karakter berupa “hubungan yang hangat dengan orang lain” (Allport, 1961, hlm. 285). Mereka memiliki kapasitas untuk mencintai orang lain dalam cara-cara  yang intim dan simpatik. Hubungan ini sangat bergantung pada kemampuan seseorang memperluas perasaan diri mereka. Hanya dengan melihat jauh ke depan, manusia dapat mencintai orang lain dengan cara yang dewasa, tanpa posesif, egois, dan tidak memaksa orang lain untuk pemuasan pribadi mereka. Manusia yang psikologisnya sehat memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, serta menyadari bahwa kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain tidak jauh berbeda dengan miliknya.
Ketiga, keamanan emosional atau penerimaan diri. Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanya. Manusia yang sehat secara psikologis tidak akan terlalu sedih yang berlarut-larut, tidak akan berkutat dengan masalah-masalah kecil, serta menyadari bahwa rasa frustasi dan ketidaknyamanan merupakan baian dari hidup.
Keempat, manusia yang sehat memiliki persepsi realistis mengenai lingkungan di sekitarnya. Mereka tidak hidup dalam dunia fantasia tau membelokkan kenyataan agar sesuai dengan harapan mereka.
Kelima, insight dan humor. Memiliki selera humor yang tidak kasar, yang memberikan kapasitas untuk menertawakan diri mereka sendiri dari pada bergantung pada tema-tema seksual atau kekerasan yang membuat orang lain tertawa. Allport (1961) yakin bahwa insight dan humor sangat berhubungan, mungkin  merupakan aspek dari hal yang sama, yaitu pemahaman diri (self-objectication). Manusia yang sehat dapat melihat diri mereka sendiri dengan lebih objektif. Mereka dapat melihat hal-hal yang mustahil dalam kehidupan, serta tidak mempunyai kebutuhan untuk berpura-pura atau memakai topeng dalam kehidupan mereka.
Kriteria terakhir, adalah filosofi kehidupan yang integral. Manusia yang sehat mempunyai pandangan yang jelas mengenai tujuan hidup mereka. Filosofi kehidupan yang integral dapat berupa sesuatu yang bersifat religious ataupun tidak. Tetapi dalam tahap personal. Manusia dengan sikap religious yang matang dan filosofi kehidupan yang integral, mempunyai kesadaran yang berkembang baik dan kemungkinan besar memiliki hasrat untuk melayani orang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Basuki, A. M. Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Walsh, Roger. 2004. Essential Spirituality. Jogjakarta: Pohon Sukma
Riyanti, B. P. Dwi, Prabowo Hendro., & Puspitawati Ira. 1996. Psikologi Umum 1. Jakarta: Gunadarma.
Feist, Jess, & Feist,Gregory J. 2011. Teori kepribadian Edisi 7 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.